JANGAN MEMBANGGAKAN AMALAN

 JANGAN MEMBANGGAKAN AMALAN

Ciri-ciri orang mukmin senantiasa merasa bahwa amalan yang dilakukan itu kurang/tidak sempurna. Setiap mukmin merasa khawatir seluruh amal yang dia kerjakan ditolak oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala

Tatkala Nabiyullah Ibrahim Al-Khalil membangun rumah Allah Subhanahu wa Ta’ala -dan itu atas perintah Allah Subhanahu wa Ta’ala- Allah memuat kisah ayah dan anak (Ibrahim dan Ismail) ketika membangun Ka’bah dalam firmanNya yang terdapat dalam surah Al-Baqarah ayat 127 dan 128, Allah mengungkapkan peristiwa ini dengan firmanNya:

وَإِذْ يَرْفَعُ إِبْرَاهِيمُ الْقَوَاعِدَ مِنَ الْبَيْتِ وَإِسْمَاعِيلُ رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّا ۖ إِنَّكَ أَنتَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ ﴿١٢٧﴾

“Dan ingatlah tatkala Ibrahim membangun kaedah/asas daripada rumah Allah Subhanahu wa Ta’ala (Ka’bah) dibantu oleh Ismail, kedua-duanya mengatakan: ‘Wahai Tuhan kami, terima lah daripada kami amalan kami ini. Sesungguhnya engkau wahai Tuhan senantiasa mendengar segala macam perkataan kami dan senantiasa melihat segala amal kami.’” (QS. Al-Baqarah[2]: 127)


Kemudian Allah Subhanahu wa Ta’ala lanjutkan pada ayat 128, doa Nabiyullah Ibrahim, dia berdoa kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala:

رَبَّنَا وَاجْعَلْنَا مُسْلِمَيْنِ لَكَ…

“Wahai Rabb kami, jadikanlah kami berdua daripada orang-orang yang berserah diri (pasrah mengikhlaskan hanya untukMu semata)”

وَمِن ذُرِّيَّتِنَا أُمَّةً مُّسْلِمَةً لَّكَ

Dan jadikanlah pula keturunan kami duhai Tuhan umat/generasi yang pasrah/berserah diri kepadaMu”

Kemudian Nabiyullah Ibrhaim dalam doanya mengatakan:

وَأَرِنَا مَنَاسِكَنَا
“Dan tunjukkan kepada kami bagaimana cara kami melaksanakan manasik ibadah kami”

وَتُبْ عَلَيْنَا

“Dan berilah kepada kami tobat wahai Tuhan”

إِنَّكَ أَنتَ التَّوَّابُ الرَّحِيمُ

Sesungguhnya Engkau adalah Dzat yang senantiasa menerima taubat hamba-hambaMu, Engkau adalah Dzat yang Maha Penyayang.”
Dalam ayat yang mulia ini yang perlu kita garis bawahi -ungkapan Nabi Ibrahim yang mengatakan dalam doanya: “Wahai Tuhan, terima lah taubat kami, sesungguhnya Engkau lah Tuhan Yang Maha Penerima Taubat, Engkau lah Yang Maha Penyayang.”

Ketika kita perhatikan ayat ini, sungguh kita bertanya-tanya, Nabiyullah Ibrahim dan putranya (Ismail) membangun Ka’bah, kenapa kedua-duanya mengatakan: “Wahai Tuhan kami, terimalah taubat kami”?

Subhanallah.. Idealnya ketika seseorang beribadah, menyembah Allah Subhanahu wa Ta’ala, berkorban membangun rumah Allah Subhanahu wa Ta’ala, idealnya dia seharusnya berupaya memohon daripada Allah Subhanahu wa Ta’ala agar Allah Subhanahu wa Ta’ala memuliakan mereka dengan amalan tersebut, mengangkat derajat mereka dengan amalan tersebut. Tapi lihatlah ketika Ibrahim mengatakan “Terima lah taubat kami.”

Ini mengajarkan kepada kita bahwasanya dalam segala macam bentuk amal ibadah yang kita lakukan -wallahi- bahwa sekali berbagai macam unsur-unsur yang mengurangi kesempurnaan ibadah.

Perhatikan Nabiyullah Ibrahim dan putranya (Ismail) membangun Ka’bah, ini amalan yang mulia. Tidak selayaknya mereka mengatakan “Terima lah taubat kami,” tapi mereka mengatakannya.

Subhanallah, itulah ciri-ciri orang mukmin. Orang mukmin senantiasa merasa bahwa berbagai macam amalan yang dilakukan dalam menyembah Allah Subhanahu wa Ta’ala adalah amalan yang kurang/tidak sempurna.

Dan kita diajarkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam setiap kali kita selesai melaksanakan ibadah shalat untuk mengucapkan “Astaghfirullah, astaghfirullah, astaghfirullah.” Kenapa demikian? Bukankah Anda telah beribadah menyembah Allah Subhanahu wa Ta’ala? Kenapa Anda mengucapkan “Astaghfirullah,”? Jawabannya karena setiap mukmin merasa khawatir seluruh amal yang dia kerjakan ditolak oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Setiap mukmin khawatir jangan-jangan amalannya dihinggapi riya’, jangan-jangan amalannya dihinggapi berbagai macam ragam penyakit-penyakit amalan, dia khawatir jangan-jangan shalatnya tidak khusyuk, jangan-jangan konsentrasi terhadap Allah Subhanahu wa Ta’ala bubar, jangan-jangan dia ingat dunia dan semua perkara ini membuat seorang mukmin khawatir Allah Subhanahu wa Ta’ala tolak amalannya sehingga selepas shalat dia mengatakan “Astaghfirullah, astaghfirullah, astaghfirullah.”

Dan itu pulalah yang membuat Ibrahim Al-Khalil ‘Alaihish Shalatu was Salam mengucapkan kata-kata:

وَتُبْ عَلَيْنَا ۖ إِنَّكَ أَنتَ التَّوَّابُ الرَّحِيمُ
“Wahai Tuhan kami, terima lah taubat kami, wahai Tuhan, Engkau lah Dzat Yang Maha Penerima Taubat, lagi Maha Penyayang.”

Pelajaran kepada kita agar jangan pernah kagum dengan segala macam amalan yang kita buat. Dan hendaklah seseorang setiap kali beramal menyembah Allah Subhanahu wa Ta’ala memohon kepada Allah. Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala mengampuni kesalahan-kesalahan dalam beribadah, kekurangan/ketidaksempurnaan dalam beribadah.

You may like these posts