Mendamba Bebas Covid, Bisakah?

 Mendamba Bebas Covid, Bisakah?

Kalau saya bicara tentang penuntasan Covid19, maka tentu akan ada kelompok yang bicara bahwa Covid19 itu tak pernah ada. Saya kesampingkan itu dahulu. Kita kesampingkan juga sisi gerakkan anti-vaksin, pro-kontranya terkait jenis vaksinnya.

Sebenarnya mudah saja, bagi negara berbasis kepulauan ini untuk terbebas dari Covid19. Asal tentu diiringi niat dari segenap yang hidup dan berperan dalam penuntasan permasalahan ini.

Kalau setiap sudut-sudut pelabuhan dan Bandara, sebagai ruang kedatangan dan kepergian para pelancong dari luar pulau dan negara disediakan penginapan untuk isolasi maka itu akan mudah saja dilakukan. Isolasi karantina bukan 5 hari, tetapi hingga 14 hari dengan menjamin kebutuhan hidup mereka di penginapan itu.

Ini dilakukan bukan saja kepada warga dalam negeri, tetapi juga yang baru datang dari Luar Negeri. Meskipun mereka membawa hasil test PCR. Tetap harus dilakukan isman maksimal 14 hari untuk menjamin bahwa tidak ada virus yang menyertai mereka.

Juga dalam proses karantina wilayah di zona merah dan turunananya, harus diketatkan dan bersikap adil. Tapi perlu diingat, semua kebutuhan hidup masyarakat saat karantina harus dipenuhi. Sehingga masyarakat tidak lantas tetap bekerja demi mencari sesuap nasi. Siapa yang berperan sebagai penyalur sembakonya, tentu wilayah-wilayah zona hijau. kekarantinaan itu dilakukan dalam jangka waktu 10 hari sd 14 hari.

Menyiapkan sejumlah tools dan aplikasi yang memudahkan akses kesehatan terjangkau dan dapat dilalui dengan mudahnya. Apakah ada larangan ke masjid? Tentu, jangan dilarang. Justru peran pentingnya terdapat di masjid. Masjid, harus menjadi bagian dari edukasi penting program ini. Penyediaan fasilitas Prokes serta meminta jamaah mematuhi aturan, niscaya tak perlu penutupan tempat sholat. Dan selama 10 hari sd 14 hari karantina wilayah, hanya masyarakat sekitar masjid tersebut yang boleh beribadah di lokasi tersebut.

 Vaksinasi

Vaksinasi digencarkan juga mengembangkan basis vaksin buatan lokal agar tidak tergantung pada negara luar. Dengan ujicoba yang maksimal tentunya.

Nah, permasalahannya adalah siapa yang punya domain atas hal tersebut? Tentu bukan seorang Rizqi Awal pribadi. Ini terkait keberanian apakah benar seseorang pemimpin mencintai rakyatnya untuk menuju jalan selamat atau mencari keselamatan pribadi dan kelompoknya.

Beruntungnya kita tinggal di Indonesia. Di mana Pemerintahannya dipercaya oleh masyarakat. Wakilnya dipilih dengan kesadaran masyarakat. Sehingga Pemerintah dan para wakil rakyat, sedari awal Covid19 ini berlangsung sudah benar-benar melakukan langkah-langkah di atas.

Rizqi Awal,
Analis Politik.

You may like these posts